Ketua Adat Besar Kutai Kutim Ajak Seluruh Paguyuban Bersatu: “Jangan Pecah Karena Politik”

Realitasindo.com – Pada malam penutupan Festa Adat Plastana, Sabtu (6/12/2025), Ketua Adat Besar Kuati Kutai Kutai Timur (Kutim), H. Sayid Abdal Nanang, menyampaikan pesan penting mengenai persatuan seluruh paguyuban dan organisasi adat di Kutai Timur. Namun sebelum rangkaian acara berlangsung, suasana pembukaan pada Jumat malam (5/12/2025) juga diwarnai penegasan komitmen Pemerintah Kabupaten Kutai Timur terhadap pelestarian budaya daerah.
Wakil Bupati Kutai Timur, H. Mahyunadi, dalam sambutannya menegaskan bahwa pemerintah daerah berkomitmen penuh menjaga keberlanjutan tradisi leluhur.
“Pelas Tanah adalah akar identitas masyarakat Kutai Timur. Pemerintah hadir untuk memastikan budaya kita terus berkembang, tidak pudar oleh zaman,” ujarnya.
Mahyunadi menambahkan bahwa nilai budaya yang diwariskan para leluhur harus terus dikenalkan kepada generasi muda.
“Acara ini bukan sekadar seremoni, tetapi pengingat bahwa kita memiliki warisan besar yang harus dijaga bersama,” tegasnya.
Pada kesempatan itu, ia juga mengajak masyarakat untuk menunjukkan kepedulian sosial terhadap saudara-saudara di daerah lain yang tengah tertimpa musibah.
“Mari kita panjatkan doa untuk saudara kita di Sumatra, semoga diberikan kekuatan dalam menghadapi ujian,” imbuhnya.
Sementara itu, pada malam penutupan, Ketua Adat Besar Kutai Kutim, H. Sayid Abdal Nanang, mengingatkan agar perbedaan pilihan politik tidak kembali merusak kebersamaan seperti yang pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. “Dulu tahun 2016 hingga 2019 kita luar biasa kompak. Tapi ketika politik masuk, kita hancur dan terpisah,” ujarnya tegas di hadapan ribuan warga yang hadir.
Nanang menegaskan bahwa seluruh warga Kutai Timur, apa pun latar belakang sukunya, kini sudah menjadi bagian dari daerah ini. “Bugis, Jawa, Banjar, Dayak, Batak, semua di sini adalah masyarakat Kutai Timur. Ini kampungmu, tempat mencari kehidupan,” katanya.
Ia kembalimenegaskan bahwa perbedaan politik tidak seharusnya memecah paguyuban. “Silakan mendukung calon mana pun, tetapi paguyuban dan adat besar tidak boleh terpisah. Kita semua bersaudara,” ujarnya.
Untuk memperkuat hubungan antarpaguyuban, Nanang merencanakan pertemuan khusus pada 1 Januari 2026. Pertemuan tersebut bertujuan menyepakati agenda seni budaya tahunan sekaligus menampilkan identitas masing-masing suku agar masyarakat semakin memahami kekayaan budaya Kutai Timur.
Nanang mencontohkan penampilan seni Reyog sebagai kebanggaan masyarakat Jawa Kutai Timur. Hal serupa, katanya, harus dilakukan seluruh paguyuban sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur.(adv/Diskominfo Kutim/Ridwan)




