ADVERTORIALHEADLINEKutai TimurPemkab Kutai TimurTERKINI

Di Persimpangan Kebijakan: Menyulam Data, Menenun Harapan

Realitasindo.com – Pagi ini, Senin, (9/9/2024) di Teras Belad Cafe & Resto, Sangatta, aroma kopi yang menggantung di udara bercampur dengan gemuruh diskusi serius. Meja-meja dipenuhi tumpukan dokumen yang mencatat perjalanan panjang upaya penanganan stunting di Kutai Timur (Kutim). Pemkab Kutim (Kutim) menggandeng Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) untuk menggelar Audit Kasus Stunting. Hari itu, mereka tidak hanya berbicara tentang angka-angka, tetapi juga tentang harapan yang disulam di antara data yang belum terkoordinasi sempurna.

Wakil Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), Saiful, yang mewakili Ketua TPPS Kasmidi Bulang, menyampaikan dalam pidato pembukaannya, “Tujuan utama audit ini adalah menyinkronkan data dan mengidentifikasi penyebab stunting yang ada di Kutim, sehingga strategi penanganan bisa lebih terarah dan tepat sasaran.” Di tengah ruang yang penuh dengan perhatian, Saiful menggarisbawahi pentingnya audit ini sebagai pijakan awal untuk mengurai benang kusut yang selama ini menghambat penanganan stunting. Data, bagi mereka, adalah benang merah yang harus disusun dengan rapi agar kebijakan tak tersesat di persimpangan.

Selama semester pertama tahun 2024, data yang dihimpun mencatat banyaknya kasus stunting yang tersebar di berbagai wilayah Kutai Timur. Namun, kurangnya koordinasi antarinstansi dan lemahnya sistem pencatatan menjadi penghalang besar dalam memformulasikan kebijakan yang efektif. Saiful berharap bahwa audit ini dapat memperkuat sistem data yang lebih akurat dan transparan, menjadikannya pondasi yang kuat untuk melangkah ke depan. “Dengan sinkronisasi data yang baik, penanganan stunting di Kutai Timur bisa lebih cepat dan efektif,” tambahnya.

Di tengah diskusi serius itu, muncul satu program inovatif yang diperkenalkan oleh Plt Sekretaris Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB), Mustika. Program tersebut, bernama *jemput bola stunting*, menjadi angin segar di tengah upaya penanganan stunting yang kerap tersendat. “Program ini memungkinkan kami untuk langsung turun ke lapangan, mendeteksi kasus stunting lebih cepat, dan melakukan penanganan segera,” ujarnya.

Mustika percaya bahwa dengan tim yang terjun langsung ke masyarakat, kasus stunting bisa dideteksi sejak dini, dan langkah-langkah pencegahan dapat diambil lebih cepat dan tepat sasaran. Program ini diibaratkan sebagai benang baru yang ditambahkan ke dalam sulaman besar penanganan stunting, memperbaiki celah yang selama ini belum tertangani.

Tak hanya itu, Mustika juga mengungkapkan rencana besar dalam waktu dekat, yakni perayaan Hari Keluarga Nasional (Harganas) tingkat Kabupaten Kutim. Ia menjelaskan bahwa Harganas tahun ini akan menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen bersama dalam menangani stunting dan mengembangkan program-program keluarga berencana. “Kami ingin Harganas kali ini lebih dari sekadar perayaan, tapi menjadi langkah konkret dalam meningkatkan kesadaran dan upaya penurunan angka stunting,” katanya dengan semangat yang terpancar jelas di wajahnya.

Sementara itu, Satgas Stunting BKKBN Kalimantan Timur, Ns Masdar John, yang turut hadir dalam acara tersebut, menegaskan pentingnya monitoring dan evaluasi yang ketat terhadap setiap intervensi yang dilakukan. “Tanpa pengawasan yang baik, semua rencana hanyalah sia-sia,” ujar Masdar. Dia mengingatkan bahwa dalam aksi konvergensi stunting, terdapat empat tahapan penting yang harus dilakukan secara teliti: pembentukan tim, identifikasi kasus, audit kasus, serta monitoring dan evaluasi. Setiap tahapan harus dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian, agar intervensi yang dilakukan sesuai dengan kebutuhan di lapangan dan tidak sekadar wacana.

Audit ini juga menjadi persiapan Kutim dalam mendukung pelaksanaan survei SKI (Survei Keluarga Indonesia) yang akan dilakukan oleh Kementerian Kesehatan dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). DPPKB Kutim berencana mengadakan rapat koordinasi dengan tim survei dari pusat, memastikan bahwa metodologi survei yang akan digunakan sudah tepat dan dapat menghasilkan data yang akurat. “Kami tidak ingin ada kesalahan dalam pengumpulan data. Rembug metodologi ini penting agar survei bisa menjadi acuan yang tepat untuk perencanaan di masa depan,” jelas Mustika.

Di tengah semua diskusi dan perencanaan yang berlangsung hari itu, satu hal yang menjadi benang merah adalah komitmen bersama untuk mengakhiri masalah stunting di Kutim. Semua pihak, dari pemerintah daerah hingga tim teknis di lapangan, bersepakat bahwa solusi atas masalah ini memerlukan kolaborasi dan sinergi dari berbagai elemen masyarakat.

Dan di ujung hari, ketika audit berakhir, masih ada harapan yang tertinggal. Harapan yang disulam dari data-data yang mulai terkoordinasi. Harapan yang ditenun dari program-program inovatif yang siap dijalankan. Di persimpangan kebijakan ini, Pemkab Kutim tak lagi berdiri sendiri. Mereka melangkah bersama, menuju masa depan di mana setiap anak Kutim tumbuh sehat, kuat, dan bebas dari stunting.

Hadir dalam kegiatan tersebut Danramil 0909-01 Sangatta Kapten Infanteri Arif Safardiyatno, seluruh camat se-Kutim, serta perwakilan Forkopimda dan perangkat daerah terkait.(ADV/dkm).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button